Sunday, March 6, 2016



SANGGAR AKSARA JAWA INDRAMAYU
TEMUKAN NASKAH KUNO DI TEGAL PELEM, KECAMATAN GABUS

Telah ditemukan tiga naskah kuno, di Desa Tegal Pelem, Kecamatan Gabus pada hari Jum’at 3 Maret 2016. Temuan ini atas bantuan Wa Ipin, sahabat sepuh disana yang menjadi penunjuk jalan dalam penelusuran benda-benda bersejarah. Ketiga naskah kuno tersebut ditulis dengan Aksara Arab Pegon berbahasa ; Sunda dan Cirebon – Dermayu. Setelah dibersihkan dari debu-debu yang menempel barulah dapat diamati tulisannya, secara ringkas masing-masing menceritakan ; Hikayat Nabi Muhamad Saw, Prabu Brawijaya dan Nyi Wandan Kuning, Babad Cirebon dan Jampi Cirebon - Dermayu.

Prabu Brawijaya tatkala sakit bermimpi mendapat wangsit agar mencari wanita bernama Nyi Wandan Kuning untuk dijadikan sarana kesembuhan, setelah dinikahinya kelak akan melahirkan putra yang diberinama Bondan Kajawen dan menjadi Ki Ageng Tarub II. Dalam naskah itu juga diceritakan yang terkait dengan Ki Pengging dan Jaka Tingkir. Sedangkan Babad Cirebon secara ringkas menuliskan perang antara Arya Kemuding dengan orang-orang dari Galuh Raja, Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Syeikh Datuk Kahfi, Mbah Kuwu Sangkan dan Sunan Gunung Jati Cirebon, terdapat juga cerita wali sanga di sana.

Jampi atau mantra-mantra Cirebon – Dermayu, menuliskan tata cara seperti ; ngobong kemenyan, ritual pertanian, tolak sengkala dan lain-lain bahkan ada juga disebutkan mantra untuk menjemput ajal kelak agar disaat melepaskan nyawa mendapatkan ketenangan atas ridhoNya.

Ditengah-tengah naskah kuno itu didapatkan beberapa lembar daun kawung [bahan rokok] dan potongan lidi sebagai penanda/batas. Hal ini berarti dahulunya naskah itu aktif dibaca oleh pemiliknya. Pembacaan babad biasanya dilakukan dengan Tembang Kidung pada acara-acara adat ritual tertentu di masyarakat.

Ketiga Naskah Kuno tersebut diterima oleh Kang Catim sekitar 20 tahun yang lalu, suatu ketika ia dipasrahi naskah-naskah itu dari seseorang yang berasal dari Desa Benda. Orang itu mengaku mendapatkan warisan dari kakek moyangnya, namun karena merasa tidak bisa mengungkap isi serta merasakan situasi yang tidak nyaman maka dipasrahkannya warisan itu kepada orang yang dianggap cocok. Kang Catim sendiri juga tidak begitu memahami isi ceritanya. Namun sebagai seorang pelaku sepiritual iapun tetap merawatnya dengan cara tersendiri, ketika team mulai membuka naskah kuno tersebut sempat terjadi sedikit ketegangan. Tuan rumah merasa sangat perlu menyampaikan amanat yang muncul secara spontan tak mampu dibendung lagi, team belajar memahami sapaan energi external. Begitu diberikan asap kemenyan yang wangi, suasana tegang menjadi normal seperti biasa, akhirnya tuan rumah mengizinkan naskahnya untuk diteliti agar dapat diketahui isinya secara lebih lanjut, serta memberikan semangat untuk terus berjuang mempertahankan dan mengembangkan warisan budaya leluhur, terima kasih kang. Semoga ini semua bisa menjadikan amalan yang baik, aminn.

Teringat pesan Bapak T. Cristomy, Phd [Lecturer] dari University Of Indonesia Faulty of Humanities, Fakultas Ilmu Budaya ketika berkunjung ke Sanggar Aksara Jawa beberapa taun sialam. Beliau berpesan, “Barang siapa menahan/melarang [mengkeramatkan] naskah kuno untuk dilihat/diteliti maka orang itu telah mengebiri karya intelektual leluhur” yang semestinya karya intelektual itu agar bisa dipublikasikan dan bisa berguna bagi masyarakat luas.

Matur Kesuwun,...... manggaaaa



Thursday, February 11, 2016

NASKAH KUNO / MANUSKRIP agar tetep dikenal masyarakat

Setelah ditemukan banyak titik peninggalan tertulis berupa lontar dan manuskrip kuno di daerah kami, tidak sedikit diantara dari benda-benda yang sangat berharga itu telah terancam kepunahan. Maka Sanggar Aksara Jawa, yeng berlokasi di Desa Cikedung Lor Blok I Gg. Guru H. Suryana, Kecamatan Cikedung - Indramayu,  mencoba untuk melestarikannya kembali dengan segala keterbatasan yang ada. Ada titik-titik informasi lontar yang telah terlacak diantaranya : Pekandangan, Plumbon, Legok Lohbener, sedangkan untuk temuan dan potensi manuskrip masih tersebar di pelosok-pelosok desa, temuan ini berdasarkan data yang pernah kami kumpulkan.

Sejak tergabung dalam Pusat Konservasi Naskah Klasik Cirebon tahun 2011 silam, kami mulai tersadarkan
akan arti penting warisan budaya tertulis ini. Didalamnya banyak terekam jejak informasi ; intelektual, keilmuan, ragam budaya, sejarah, obat2an herbal dan lain-lain. Kami pun telah mengajak kepada generasi muda agar turut serta melestarikan warisan budaya yang adi luhung ini, semoga ke depan banyak pihak yang ikut membantu melestarikannya. Sebagai langkah ke depan kami telah ikut mendorong terlahirnya sebuah lembaga yang lebih besar dan luas, kami bergabung dengan teman-teman di kota dalam sebuah wadah MBC [Museum Bandar Cimanuk, Indramayu].

Teringat akan pernyataan dari Bapak Christomy, Phd dari Fakultas Ilmu Budaya UI, Depok Jakarta yang pernah berkunjung ke sanggar kami, bahwa menimbun naskah kuno [mengkeramatkan / tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain terlebih untuk penelitian] adalah sebuah perbuatan yang sangat keliru karena sama saja dengan mengkebiri karya intelektual leluhur kita. Meskipun demikian kita harus berhati-hati memperlihatkannya, karena dikhawatirkan jika seseorang yang tidak memahami akan perlakuan kepada naskah kuno itu ikut menjamahnya, maka ia bisa mempercepat kerusakan kepada fisik naskah itu sendiri.
Adalah menjadi sebuah kewajiban kita bersama untuk ikut mempublikasikannya walaupun dengan segala keterbatan yang ada, dengan demikian pemikiran intelektual leluhur itu terus mengalir.


Thursday, February 4, 2016

MENELUSUR KARYA SASTRA KARUHUN DALAM MANTRA DERMAYON

Dalam keseharian masyarakat Indramayu tempo doeloe, tidak terlepas dengan penggunaan mantra-mantra, ada mantra-mantra yang digunakan dalam penerapan pengolahan lahan dan hasil pertanian, mendirikan bangunan rumah, hajatan [pengantin, sunatan], nujuh bulan dan lain sebagainya. Termasuk juga salah satu mantra yang diucapkan ketika hendak mendirikan shalat fardu, sebelum mengucapkan ushali fardhol..... maka terlebih dahulu mengucapkan mantra dibawah ini.

Mungkin bagi kebanyakan orang merasa gundah dengan mantra ini, namun kami Sanggar Aksara Jawa merasa penasaran dan mencoba menggali sedapat mungkin dengan dari makna yang terkandung di dalam mantra tersebut dengan segala keterbatasan pengetahuan yang ada. Hal ini juga dimaksudkan sekedar pengingat-ingat ataupun pekeling agar kita sebagai Wong Jawa [Indramayu] tidak melupakan induk bahasa daerah dan warisan budaya yang lainnya. Ternyata tidak mudah untuk menyelami alam pemikiran para karuhun dahulu, banyak diantara mereka yang telah membuktikan ngaji niti surti.

bismillahirahmannirrahim
nawaetu wijile sukma
nokat gaib natu gaib
suci islam badan sampurna
ushali urip ya hu iman tutup urip
ushali minal khanafsi
bresi suci roh raga nisun
subkhan walkadiati
bresi suci roh nyawa nisun
niat isun ngucapaken jaya sampurna
surya megar suraya megar
surya munjuk maring mega mulya
sang pepusu kang ana ning arep
sang ari-ari kang ana ning buri
nini langgeng kaki langgeng
aja owah selawase isun urip

Bismillahhirrahman nirrahim, niat merupakan dari biji intisari ruh sukma. Jika tekad dari ruh qalbunya tergolong baik, maka ia akan menggerakan segala panca indra akal budi untuk mengerjakan kebaikan [shalat, dll]. Nokat Gaib dan Natu Gaib, disebutkan dalam Serat Pambukaning Ilmu Adam Nafi, Kalisapu Cirebon dan Babaran Serat Wirid Hidayat Jati, R.Ng. Ronggowarsito adalah sebagai Johar Awal atau Nur asal kejadian manusia dilahirkan ke bumi. Bagaimana keduanya dibangkitkan olehNya kemudian dianugrahkan turun kedalam dua insan yang berlainan jenis, sehingga menjelma seorang putra dan begitulah proses seterusnyasebagaimana terserat dalam Kidung Karya Susuhunan Kalijaga itu, "Wiji sawiji mulane dadi pencar saisineng jagat, kasamaddan dening Dzate".  Berawal dari Wiji Urip Nabi Adam As, kemudian membelah diri memperbanyak melalui keturunan, ini adalah semata2 kehendakNya.

Namun demikian cara2 yang benar adalah dengan suci islam badan sampurna, dengan bersih hati, dengan berprinsip Islam sebagai rahmatan lil allamin maka kita akan sempurna sebagai manusia yang berakal budi sebagai manusia yang sebenarnya. Bukan jasad manusia namun berisi dan berpola pikir serta bertindak atas kepanjangan tangan dari perilaku-prilaku buruk yang ditolak oleh fitrah manusia itu sendiri. Dengan mengenali nafsu dan menempatkan pada porsinya masing-masing maka roh nyawa manusia akan bersih mulia.

Niatku mengucapkan jaya sampurna, ialah dengan surya [penerang, akal budi] yang semakin mekar berkembang. Akal budi itu harus semakin meninggi mencapai lapisan makom yang luhur mulia. Dalam kejawen maka dikenal sedulur papat teman dan penjaga kehidupan pribadi atau mungkin dalam Islam dijaga oleh Malaikat, sang pepusu yang didepan [pola pikir kedepan] dan sang ari2 adalah guru pengalaman yang telah dilalui. Semua itu agar jiwa raga [kaki-nini] tetap dianugrahi ketetapan tekad hati untuk berpihak kepada yang benar. Agar hidup dalam keseharian ini tidak tersinggahi suhu owah gingsir [perubahan sikap] berpihak kepada yang buruk, sehubungan datangnya rencana saban dina agung prapta, datangnya rencana yang besar itu setiap hari silih berganti.

Wallahu allam bisowab
Salam rahayu


Tuesday, February 2, 2016

SYEIKH MAULANA MAGRIBI MEMBERIKAN PETUNJUK KEPADA SYEIKH MALAYA [SUNAN KALIJAGA]




Salinan Naskah yang sudah dialih aksarakan kedalam latin ini, adalah milik dari seorang tetua Desa Nunuk Kecamatan Lelea, Indramayu. Wa Ono, seorang pujangga sepuh yang belum mempunyai penerus, buku hasil salinannya itu begitu menarik namun tidak banyak orang yang mengetahuinya.  kami Sanggar Aksara Jawa, mencoba menelaah semoga saja bisa bermanfaat,


Syéh Malaya [Sunan Kalijaga] ketemu karo Syéh Maulana Magribi
DANGDANG GULA

1.              // syéh malaya pan lajeng lumaris / pangéran cirebon kondur maring kadatwan / klintang ngungun goné casé / yata malih winuwus / syéh malaya kang arsa kaji / [hlm. Xx] sampun nabrang sagara / pulo upih rawuh / lampahé nulya kapapag / lawan syéh jeng maulana magribi / syéh malaya tinakonan //
2.              // hé jebéng arsa miyang ngendi / oléné sira anabrang sagara / syéh mlaya alon turé / manira arsa nglangut / maring mekah amunggah haji / angling syéh maulana / bebakal siréku wong  wus antuk kamulyan / tingal padhang cipta nira pan wus dadi / arsa kaji mring mekah //
3.             // basa mekah dudu ka’bah jati / mekah tiron tengerané séla / kang gumantung tanpa cantél / ia tilas nipun / nabi ishak kalané lahir / nabi ibrohim kang jasa / syari’at kang tinut /  déné wong ahli ma’rifat / nuting keblat ka’bah iku séla sami / asliné jati sukma //
4.             // ya wus anéng sira pribadi / kang linuwih purba amiésa / [hlm. Xx] anéng sira paésané / poma ngilo siréku / ing cermin katon kakalih / jatiné mung satunggal / wayangan kadulu / ana ndulu wewayangan / saking tan wruh ingkang ngilo carmin / lah jebeng awangsula //
5.             // syéh malaya kacaryan sabdaning / asru mendhak arsa ngaras pada / sang wiku njawat tangané / syéh maulana muwus / aja nembah jebéng tan keni / sira pada lan ingwang / lan wali panutup / sagung kang wali atapa / tan madani brangtiné marang hyang widhi / lah wis ingsun tarima //
6.             // syéh malaya matur atanya aris / tuan pundi sinten kang pinudya / hamba ayun andérék / ngandika sang wiku / sun syéh maulana magribi / ngasrama alaman cingan / arab asal ingsun / aja susah mélu mring wang / [hlm. Xxxxx] sira arsa anggeguru maring mami / ki jebéng ora kena //
7.             // lamon sira ora dén lilani / marang guru nira kang kawitan / wenang sun mlambangi baé / becik wong setia setuhu / tinarima maring hyang widhi / tuhu amartapaé / aning kali tunggu / wot galinggang anéng alas / ndekukuwa tedanen guru niréku / parek tanpa gepokan //
8.             // ya tebih tanpa wangenan nenggih / nyatakena dén kanti satmata / yén karasa ing déwéké / lah uwis tutur ingsun / njawat tangan lajeng lumaris / kacaryan syéh malaya / kantun néng delanggung / anenggani wot gelinggang / anéng wana tanpa dahar tanpa guling / saksana wit galinggang //
9.             // satus dina kramatira mijil / kayu glinggang ngrembuyu ron nira / ngaubing génira senden / [hlm. Xxxx] saking marma hyan agung / kayu mati sinenden urip / wuwusen sunan bonang /wau kang alangkung / anguwot anéng galinggang / nulya mirsa kang rayi saréh ning kali / winungu uluk salam //
10.          // syéh malaya kagét aningali / mring kang raka gupuh jawat asta / jeng sunan bonang wuwusé / paran karsa niréku / tapang ngalas jaga ing kali / yén mengkonon ta sira / sun wéhi jujuluk / suhunan ing kalijaga / para sahabat sadaya sami ngistréni / syéh malaya nama sunan //
11.           // wus kaidén sira anéng riki / adedukuh anéng kalijaga / garwané sunusulaké / laminé tan winuwus / sunan bénang milwa mbabadi / tumut karya pratapan / [hlm. Xxxx] dépoké apatut / wus mangkana sunan bénang / angandika mring kang rayi sunan kali / payo mring giripura //
12.           // kang nglurahi sakéh para wali sadaya / sunan giri ya prabu satmata / kang angréh wali jawané / payu nyuwun pangéstu / tur sandika susuhunan kali / tandya samia lumampah / pra murid tut pungkur / ing marga datan winarna / sampun lepas jeng susunan dénya lumaris / prapténg giri kedatwan //
13.          // sampun cunduk mring susuhunan giri / tandya sami anjawat astanya / pepak para wali kabéh / jeng sunan bénang muwus / mring kang raka suhunan giri / kaula tur uninga / jangkep wali wolu / [hlm. Xxx] pun adi ing lepen jagi / kang jumeneng wali panutup ing jawi / sinihan mring hyang sukma //
14.          // sunan giri angling angidéni / jumenengé sunan kalijaga / mupakat para wali kabéh / jeng sunan kali matur / mring kang raka bénang sang yogi / kaula nama sunan / déréng angsal tuduh / hamba nuwun pangawikan / sunan ngampél angandika / bareng lan siwilah / nuli kawejangan //
15.          // pamejangé sinemon kang rayi / damar murub yén mati urubnya / urubé nyang ngendi parané / kang rayi aris matur / kaleresan dénya nampéné / leres kang pangrahita / duk sarta kang wahu / sineksén marang hyang suksma / pra tandhané marang hyang widhi / [hlm. Xxx] coblang da tanpa cahya //
16.          // langkung nuwun jeng suhunan kali / matur nembah pan angaras pada / jeng sunan
bénang ling ngalon / yayi dén awas émut / aja nganti kawedar lati / iku sabda pangéran / yén kawedar kang wruh / sagungé ingkang tumitah / yen mangerti dadi manusa linuwih / kafir kufur sampurna // [hlm. Xxx]

 TAMAT

Wa Ono Nunuk, Lelea – Indramayu
Kesalin : mulai 01-2016




Terjemah bebas

DANGDANG GULA

1.              Syeikh Malaya kemudian melanjutkan perjalanan, sementara itu Pangeran Cirebon pulang kembali ke Kedaton. Syeikh Malaya yang ditinggalkan merasa prihatin, diceritakan lagi Syeikh Malaya yang hendak menunaikan ibadah haji. [hlm. xx] Ia telah menyeberangi lautan dan telah mendarat di Pulau Upih. Ditengah perjalanan bertemu  dengan Syeikh Maulana Magribi, lalu menyapanya.
2.              “Hei Jebeng, mau kemana? kamu sampai menyeberangi lautan” Syeikh Malaya menjawab perlahan, “Hamba hendak berkelana menunaikan ibadah haji ke Mekah” Syeikh Maulana menyambung sabdanya, “bebakal [percuma / kurang pas] kamu ini, sebab kamu telah mendapatkan kemuliaan berupa terang budi ciptamu yang telah merasuk, masih saja kamu mau pergi ke mekah.
3.             Kata Mekah itu bukan Ka’bah sejati. Itu adalah Mekah tiruan yang ditengarai dengan batu gumantung tanpa cantelan. Disana merupakan petilasan Nabi Ishak tatkala di lahirkan. Juga merupakan jasa dari Nabi Ibrahim, yang diikuti oleh syari’at. Adapun bagi seorang  ahli ma’rifat itu juga mengikuti kiblat Ka’bah batu yang sama, namun kiblat yang aslinya adalah Sukma Sejati.
4.             Ini sudah berada dalam dirimu pribadi, Sukmajati yang linuwih purba awisesa [berkuasa atas segala hal] [hlm. Xx] Paesan-nya itu berada dalam dirimu, maka cobalah kamu bercermin. Di dalam cermin terlihat dua bayangan yang sejatinya hanya satu. Banyangan terlihat, ada [orang] yang melihat bayangan, karena [ia] tidak mengetahui yang sedang bercermin. Nah Jebeng, kamu pulanglah kembali”
5.             Syeikh Malaya terkejut heran pada sabdanya, kemudian ia segera mendek hendak menyembah bakti. Sang Wiku segera menarik tangan Syeikh Malaya, kemudian Syeikh Maulana berkata, “Janganlah kamu menyembah Jebeng! sebab kamu sama [derajatnya] denganku, kamu sebagai wali penutup. Semua bentuk tapabrata para wali kepada Hyang Widhi itu tidaklah sama, bangunlah baktimu sudah aku terima”
6.             Syeikh Malaya bertanya santun, “Tuan ini siapa? Serta hendak kemana? Hamba ingin mengikutimu” Sang Wiku menjawab, “Aku adalah Syeikh Maulana Magribi, berasal dari Arab, janganlah kamu mengikutiku! [hlm. xx] kamu tidak boleh berguru kepadaku.
7.             Sebelum kamu memdapatkan izin restu dari guru pertama, aku hanya boleh menunjukan cara/jalan. Sebab sangatlah utama seseorang yang setia-setuhu kepada sang guru, ia akan diterima oleh Hyang Widhi. Maka hendaklah kamu bersungguh-sungguh melakukan tapabrata, di kali dengan menunggui wot kayu galinggang yang berada di dalam hutan. Buatlah pedukuhan di sana, mohonlah kepada gurumu yang parek tanpa gepokan [dekat tanpa senggolan].
8.             Yang jauh tanpa batas, nyatakanlah hingga benar-benar nampak nyata dan dirasakan oleh pribadimu sendiri. Sudah cukup petunjuk dariku” Kemudian Syeikh Maulana menjabat tangan lalu pergi, Syeikh Malaya tertegun ditinggal seorang diri dalam  hutan. Ia menunggui wot gelinggang dengan meninggalkan makan dan tidur, syahdan pohon gelinggang yang dijadikan wot itu.

bersambung