Sunday, December 2, 2018

KI SIDUM INDRAMAYU


MENELUSUR JEJAK KI SIDUM
 Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung Indramayu

Nama Ki Sidum sangat erat dengan masyarakat Indramayu ini bisa dihubungkan dengan nama situs di beberapa desa, menurut Babad Dermayu Raden Wiralodra dan Ki Tinggil tatkala mencari Kali Cimanuk sampailah di tepi sungai Citarum. Dalam keraguan mereka berdua beristirahat duduk-duduk di tepi sungai besar itu sambil mengambil buah-buahan hutan untuk dimakan. Ki Sidum merasa kasihan melihat kedua orang ini, dalam Pupuh Tembang Kinanti diceritakan ;
//o// wus lami lampah pukulun / saking bagelén negari / tigang tahun lampah hamba / ing pundi cimanuk kali / kula déréng antuk warta / mugi kaki anulungi //o// ki sedum wecana arum / sarwi menggap-menggap aris / dehem watuk awecana / duh ki putu welas mami / iku sira iya keliwat / kesasar lampah iréki //o// puniki kali citarum / karawang bagiyan néki / sampun kaliwat tebih / kedah wangsul malih kaki / amesisir lampah dika / ngalér ngétan lampah néki //o//
(Raden Wiralodra berkata), “Sudah lama perjalanan hamba dari Negara Bagelen, sudah tiga tahun hamba mencari Kali Cimanuk namun belum mendapatkan berita dimana letaknya. Semoga Kakek mau menolong hamba.” Ki Sidum menjawab santun dengan napas yang menggap-menggap sambil terbatuk-batuk, “Duh cucu, aku merasa kasihan. Perjalananmu ini tersesat, yang kamu cari sudah terlewat. Ini adalah Kali Citarum berada di wilayah bagian Karawang. Kamu sudah terlewat jauh, maka harus balik lagi dengan mengambil jalan melalui pesisir ke arah Utara terus ke Selatan.”
Siapakah sebenarnya Ki Sidum yang telah memberikan petunjuk tersebut? Setidaknya ada beberapa tempat situs petilasan Ki Sidum di wilayah Indramayu yang sudah sangat dikenal masyarakat diantaranya berada di ; Pasekan, Temiang Sari dan Majasari Sliyeg. Belum lagi ada situs-situs lain yang dikaitkan dengan nama beliau, ini menunjukan bahwa penokohan Ki Sidum mempunyai tempat tersendiri di hati masyarakat. Sementara itu dalam Lontar Babad Dharma Ayu Nagari menjelaskan identitas Ki Sidum ;
iku buyut sidum tiyang karihin
kidang pananjung kang asma
pejajaraan aslinéki
tumenggung sri baduga
kang katah jasa hiréki
Terjemah bebas ; Buyut Sidum itu orang dahulu, namanya Kidang Pananjung yang berasal dari Pajajaran. Tumenggung Sri Baduga yang banyak jasanya.


Dapatlah diduga bahwa wilayah Dermayu atau pesisir pantura pada jaman dahulu masih merupakan wilayah Pajajaran, hal ini dapat dilihat dari keterangan bahwa Kidang Pananjung atau Ki Sidum merupakan salah satu Tumenggung Sri Baduga Pajajaran. Sehingga ia mengetahui dengan jelas tentang letak posisi kali Cimanuk wilayah bawahan yang dicari oleh Raden Wiralodra dan Ki Tinggil untuk dibangun pedukuhan, serta juga dibuktikan dengan adanya titik-titik situs keramat yang berkaitan dengan dirinya. Hal ini menandakan bahwa Ki Sidum memang akrab dengan wilayah pantura duk kala jaman semana, sedangkan Dalam Babad Dermayu Naskah Losarang disebutkan bahwa letak posisi Hutan Kali Cimanuk yang hendak dibabad oleh mereka berdua adalah yang air kalinya berwarna kemerahan sebagai penanda berdekatan jaraknya dengan muara Cimanuk.

Beberapa Sebutan Kidang Pananjung pada Naskah Lainnya

1.              Naskah Majalengka

//o// kang satunggil putranné rangga pakuwan metu saking raja sédhangwangi hingaranna sangiyang kokor parennahhé hing panémbong / kang satunggil putranné perebu mundingkawatti / hapuputra kidhang pannajung / kidhang pannajung hapuputra ratu widha / ratu widha hapuputra parrebu wesi perrenahhé hing raja polah //o// kang satunggil putranné hing ngarranna sangiyang madha warrak kang metu saking tompo / kang satunggil putranné hing ngaranna radhén kalipah / kang satunggil putranné hing ngaranna radhén sinom / radhén [hlm. 25] sinnom hiku perrenahhé hing suci //o//

Terjemahan bebas ; keturunan Ratu Sunda yang lain bernama Rangga Pakuan lahir dari Raja Sedawangi. Rangga Pakuan disebut juga Sangiyang Kokor bertempat di Panembong. Putra Ratu Sunda yang lain bernama Prabu Mundingkawati, menurunkan putra bernama Kidang Pananjung kemudian menurunkan putra bernama Ratu Wida, kemudian menurunkan putra bernama Prabu Wesi bertempat di Raja Polah. Putra Ratu Sunda yang lain bernama Sangiyang Mada Warak lahir dari Tompo,  putra yang lainnya bernama Raden Kalipah, putra yang lainnya Raden Sinom bertempat tinggal di Suci.

BAGAN SILSILAH
 













//o// mangka bedhil hiku dhihedhum-hedhum si gutur geni perennahhé hing mataram / si santommi parrenahhé hing carebon / si hamuk parrenahhé hing banten / mangka putra siliwangi metu sakking padhanna watti hing ngarranna [hlm. 34] rangga mantri //o// rangga mantri hapuputra ratu sélawatti / sélawatti hapuputra sang ngadhipatti parrennahhé hing kuningan / sang ngadhipatti hapuputra ratu sédhalarang / sédhalarang hapuputra perebu caradhéwa / caradhéwa hapuputra ki dhipatti sangacala / dhipatti sangacala hapuputra kidhang panajung / kidhang panajung hapuputra kakalih / kang sepuh hing ngaranna beras harum parrenahhé hing pajalu / kang nganom parrenahhé hing rajapolah //o//

Dari alihaksara tersebut dapat dibuat Bagan Silsilah sebagai berikut ;

 




















2.             Babad Galuh

Terjemah bebas dari bagian Pupuh Asmarandana

Tatkala Prabu Mundingkawati bersama para wadyabalanya bersukacita melakukan perburuan kidang dan menjangan ditengah hutan maka rombongan masuk ke wilayah menjangan sentana, yang merupakan tempat tinggal daripada menjangan jejadian keturunan dari Prabu Linggaiyang. Tatkala itu Sang Prabu telah bersetubuh dengan menjangan (samaran?),  menjangan hamil dan kemudian menurunkan putra, adapun nama-namanya ; Manjangan Gumulung Sakti dan Manjangan Wulung Upas bertempat tinggal di Galunggung. Tanopen Kidang Ancaran dan Kidang Panawungan, yaitu yang merupakan keturunan Prabu Linggaiyang kang sasmata. Manjangan Gumulung Sakti adalah rama dari Manjangan Gumaringsing yang menjadi nata jua. Sang Kidang Panawungan ialah rama dari Sang Kidang Pananjung di Sunda.

Bagan Silsilah
 















Pada bagian Pupuh Durma, menceritakan

Ketika usianya mencapai 11 tahun, Siliganda (Siliwangi) sudah bisa merebut kembali puri yang telah dikuasi musuh. Setelah takluk Manjangan Gumaringsing akhirnya mengabdi dan diampuni kesalahannya, kemudian ia diberikan wilayah kekuasaan di Negara Galunggung. Selanjutnya      Jaka Siliganda menuju ke arah Barat, hingga sampailah di Parayangan. Syahdan Kidang Panawangsa (Panawungan) tatkala melihat bayangan seseorang yang berkelebat segera diburunya. Namun Siliganda segera menjemputnya,         disabet dengan anak panah hingga putuslah badan sang kidang gugur seketika. Kemudian putranya hendak belapati kepada sang rama, Kidang Panjing mengejar Sang Siliwangi. Segera ia melepaskan panah, mata panah melucur cepat menembus Kidang Pananjung hingga terjatuh. Namun ia berubah menjadi seseorang yang kemudian cepat menghaturkan sembah bakti kepada Siliwangi. Itulah asal-usulnya adanya Menak Prayangan, ialah kijang berubah menjadi manusia kembali.

Kala dahulu telah menduduki pura selama 11 tahun, sekarang mendadak kembali direbut oleh Jaka Siliwangi. Disitulah Kidang Pananjung, dimaafkan atas kesalahannya malahan diberikan wilayah kekuasaan tempatnya di Panawungan. Sudah kembali keraharjaan di bumi Pajajaran, Siliwangi yang kemudian digadang-gadang menjadi raja.


ANALISA TENTANG KI SIDUM

Ki Sidum disebut-sebut juga masih merupakan leluhur Sumber, Majalengka. Ada kepercayaan pada sebagian masyarakat Indramayu bahwa keluarga Sumber (orang tertentu) bisa dimintakan berkahnya untuk memohonkan kepada Allah Swt agar cepat dianugrahi akan turunya hujan tatkala dimusim kemarau panjang. Kosa kata “Sidum” sendiri identik dengan suasana di pegunungan yang terdapat lebih banyak curah hujannya ketimbang di wilayah pantura, wilayah dimaksud mungkin adalah daerah Pasundan atau Parahyangan. Kata “Sidum” bermakna ; mendung, situasi banyak mendung menjelang hujan, atau hujan terus-menerus walaupun berupa gerimis atau tidak turun hujan lebat. Sampai-sampai ada keyakinan di masyarakat bahwa ketika keturunan Ki Sidum melakukan hajatan walaupun hajatannya berada dimusim kemarau, seringkali turun hujan (wallahu’alam bisowab). Jika dikaitkan dengan sumber berita cerita beberapa naskah kuno yang berhasil dikumpulkan, Ki Sidum bisa disimpulkan seseorang dari wilayah kidul atau pegunungan.

Di Desa Ligung, Majalengka ada situs makam Ki Sidum yang terletak dibantaran Kali Cimanuk, Ki Bagus Ade Suwandi Cilandak, Anjatan Indramayu yang merupakan seorang cucu dari Patu (Tetua) Waluh Sumber. Menjelaskan bahwa dirinya termasuk salah satu generasi dari Ki Bagus Arsitem Sumber-Majalengka, ia masih memegang beberapa warisan Pusaka Sumber secara turun-temurun. Oleh itu keluarganya juga ikut menjadi penentu / menunjuk seseorang untuk dijadikan pengganti kuncen Situs Ki Sidum Ligung yang selanjutnya.

Siapakah Ki Sidum? Pada jaman Raden Wiralodra Babad Alas Kali Cimanuk disebutkan bahwa Ki Sidum nama aslinya adalah Kidang Pananjung dari Pajajaran. Sebagai bukti penguat tentang keberadaan tokoh tersebut nama Kidang Pananjung juga disebutkan dalam Naskah Majalengka, dan Babad Galuh. Kidang Pananjung merupakan keturunan Prabu Linggaiyang Pajajaran bahkan Siliwangi sendiri memberikan wilayah  kekuasaan kepadanya. Namun Rupanya nama Kidang Pananjung juga tidak saja ada pada jaman Pajajaran, namanya juga muncul pada keturunan daripada Adipati Kuningan yang merupakan trah keturunan dari Rangga Mantri atau Ki Pucuk Umun Telaga. Bisa saja Ki Sidum yang situsnya terletak di desa Ligung Majalengka itu merupakan keturunan dari Adipati Sangacala, karena memang antara Majalengka dan Kuningan jaraknya tidak begitu jauh.

Bagaimana dengan Ki Sidum Temiangsari?, wit penjalin dalam bahasa Sunda disebut dengan nama Temiang, sedangkan kata Sari sendiri mengandung makna ; pokok, sumber (intisari), atau bagus. Tidak jauh dari Desa Majasari yang mana terdapat situs petilasan Ki Sidum juga ada situs keramat Alas Penjalin, pohon penjalin atau temiang disana sampai sekarang juga masih tumbuh. Menurut cerita leluhur Cikedung “Penjalin Telaga” (dari salah satu situs karamat) juga sangat terkenal untuk digunakan sebagai jimat atau piyandel. Dengan demikian apakah memang wit penjalin ini sebagai penanda trah Telaga, sebagaimana leluhur daripada Kidang Pananjung yang berujung kepada Rangga Mantri / Pucuk Umun? Untuk mengungkap fakta ini tidaklah mudah namun setidaknya bisa dijadikan sebagai titik penerang untuk menarik hubungan tokoh Ki Sidum Temiangsari dengan para leluhurnya.

Ki Sidum memang suka berkelana, dalam Babad Dermayu disebutkan suka malihwarna berubah wujud menjadi seorang kakek petani, juga berpindah-pindah tempat dalam memandu Raden Wiralodra dan Ki Tinggil untuk menemukan letak Kali Cimanuk. Sebagaimana kebiasaan leluhur linuwih jaman dahulu selalu berpindah-pindah tempat untuk menanamkan jasab guna membuka lahan baru yang kelak dihuni oleh orang lain yang membutuhkannya.


Wallahu’alam bisowab

Tuesday, November 27, 2018

SADAT KALI CIMANUK INDRAMAYU

SADAT KALI CIMANUK

“Bismillahirrahmannirrahim
Isun angucapaken sadat cimanuk
Betara janur betara gagah prekosa
Betara budhigala ireng
Sang betara drubala putih
Sang betara sudhara putih
Gur arané amadh
Roh ilapi aranéng ilmu
Senyatanéng kudratullah kakasih ki siti wali
Byar padang maripaté ora hana kang hingkang ngaling-ngalingi
Sangsang sun, sun ngambah segara madu
Anna sakudhupéng melati
Ambuné aruma awangi
Kukus namanéng tinjo
Darabakan namaning bening
Gilang-gilang tanana ngadheg
Ratu sari Allah
Kanggo ngasih ing wong wangan
Dat héyang kongas sira singa ruteng
Embah sekar gubah
Sadattana ugerjati
Lungguh putung hujung gunung
Sun mentas hing linggar jati
Tés érang badanku allah
Muhamadh badanku allah
Kebut putih araning nyawah
Antel putih sagara sampurna
Nur caya nur iman bawang abang apa rasané

Legi sira sirna isun sampurna”

Banyak makna yang terkandung dalam Sadat Kali Cimanuk, serta bisa ditafsirkan dari berbagai sudut pandang. Dari segi hubungan antar wilayah kala dahulu, bisa saja Sadat ini merupakan Identitas Penghuni wilayah aliran Kali Cimanuk. Dari susunan kalimat, Sadat Cimanuk memiliki kearifan lokal. Contoh dengan mengambil kosa kata yang berlaku pada jaman dahulu, sebut saja kata "Betara" namun sepertinya tidak merujuk kepada tokoh pewayangan, "Betara" disini lebih kepada seseorang yang sangat dihormati karea ia telah dimuliakan olehNya. Sadat ini juga mengandung titah persatuan, "sira singa ruteng, kamu yang meneguhkan" juga merujuk pada ajaran tauhid.


Sumber Naskah : Ki Buyut Raksadipura, Margadadi
Pemilik : Ibu Dewi
    Bahan : Kertas Bergaris
   Aksra & Bahasa : Cacarakan / Cirebon - Dermayu




Sunday, November 25, 2018

Indramayu, Lontar Sukaurip, Balongan

Pusaka Desa Sukaurip Balongan

Kuwu Jahadi Suryana, menjadi pewaris pusaka peninggalan kuwu-kuwu sebelumnya. Secara bergantian warisan pusaka itu disimpan oleh kuwu yang menjabat, namun belum diketahui dengan jelas isinya. Ternyata warisan pusaka Kuwu Suka Urip, Kecamatan Balongan tersebut berupa Lontar dan Naskah Kuno.

Kuwu-kuwu sebelumnya begitu tertutup mengenai warisan pusaka tersebut sehingga tidak diketahui secara jelas isinya. bertahun-tahun Mas Asef Saifullah, SH berusaha mencari tahu mengenai isinya, dua tahun yang lalu Team SAJAKP  diundang secara khusus untuk ikut membantu membedar isinya itu. Dari dua kali kunjungan alhamdulillah mulai terkuak, ternyata Mantok Jambe itu berisi surat2 penting dari Residen Cirebon yang diberikan kepada Kuwu Sukaurip, dan beberapa lempir lontar. Sedang ditempat terpisah masih ada tumpukan lontar dan naskah kuno. Ditemukan angka tahun 1728, 1806, 1811, 1821.

Terdapat potongan-potongan informasi, keterangan yang terputus ini disebabkan telah terjadinya kerusanan2 daripada bagian baik lontar maupun naskah. Tetapi setidaknya dapatlah disimpulkan sebagai berikut :
1. Kuwu Sukaurip menyetor Upeti berupa beras dalam jumlah yang besar (Gantang) pada bulan dan tahun tertentu atas perintah Kompeni.
2. Surat Penghargaan dari Residen Cirebon kepada Kuwu Sukaurip, menyebutkan hasil bumi desa berupa ; padi/beras, kopi, dll
3. Menyebut beberapa nama blok di jaman dahulu
4. Tulisan Lontar sangat kental menggunakan wandan/model cirebonan kala itu.

Indramayu, Kabuyutan Jawa Dwipa

KABUYUTAN

Sekitar empat tahun yang lalu SAJAKP (Sanggar Aksara Jawa Kidang Pananjung) diminta untuk membantu menstransliterasi 2 copy Naskah Kuno Majalengka, karena wandhan (model) aksara jawanya yang cukup rumit, maka baru bisa dikerjakan beberapa tahun berikutnya. Naskah pertama sudah selesai, belum selesai naskah kedua. Tiba-tiba kami dihubungi teman dari Sumedang untuk melihat keberadaan naskah warisan dari buyutnya itu.

Setelah kami berkunjung ke sana ternyata naskah kuno tersebut milik Ki Sura yang berasal dari Kuningan. Dalam naskah tersebut ada sebuah pesan, jika hendak membacanya hendaklah "Meleum Menyan". Membakar  kemenyan adalah tradisi kuna, selain untuk pengharum ruangan ternyata menyan juga bagus untuk terapi merangsang syaraf-syaraf otak yang positif. Naskah Haurngombong yang berjudul Kitab Waruga Gemet itu menyebutkan ; Prabu Galuh serta keturunannya dari bangsa lelembut dan manusia, rupaya hubungan dengan mahluk halus sudah terjelain sejak dahulu dan tercatat dalam beberapa naskah kuno, sebagaimana Babad Cirebon Naskah Sindang milik Ki Kuwu Luruh, Arya Kiban diiringi wadyabala dedemit, Babad Dermayu, ketika Ki Tinggil membakar kemenyan maka datanglah Kalacungkirng Hulubalang Lalanglang Jagat bertamu ke Kerajaan Siluman Pulomas. demikian juga dengan Carub Kanda Naskah Tangkil menceritakan serupa.

Waruga Gemet menceritakan penyebaran trah Ratu Galuh dari lelembut dan manusia yang menjadi penguasa dialamnya masing-masing. Bahkan ditengarai meski berbeda alam kedua trah itu menjalin persaudaraan sebagaimana layaknya manusia saling membantu sesama saudara. Trah dari Lelembut / Manusia ada yang mendapatkan gelar Sanghiyang atau Kabuyutan. sementara itu Naskah Kuno Majalengka berjudul Kitab Purwaning Jagat, ketiga naskah tersebut sepertinya berasal dari daerah yang saling berdekatan serta menggunakan gaya tulis dan bahasa (Cirebonan, sunda) yang hampir sama. Bisa disimpulkan menceritakan keturunan Ratu Sunda, (Prabu Galuh) hingga ke ; Cirebon, Telaga, Sumedang Larang, Sumur Bandung, Indramayu dan lain-lain.

Bagian kedua belas dari Carub Kanda menceritakan semua para Kabuyutan yang merupakan keturunan Galuh yang berbadan halus sehingga tidak terlihat oleh mata telanjang. Mereka hidup berbawur namun bukan beragama Islam tetapi ikut melindungi anak cucu manusia (keturunan Galuh, Pajajaran) sepulau Jawa. [hlm. 76] Mereka berbadan seperti peri, dedemit, merkayangan yang suka menampakan diri terhadap manusia. Melindungi kepada anak cucu yang menjadi raja-raja di Pulau Jawa, oleh karena itu haruslah diketahui akan nama-nama para Kabuyutan.   Mudah-mudahan saja menjadikan sawab lantaran keselamatan bagi perjalanan hudupmu. Yang tinggal di Pulau Jawa semuanya patut mendapatkan perlindungan, dijaga akan kedudukannya oleh para buyut yang masih merupakan trah Prabu Siliwangi. Para Kabuyutan itu ada yang tinggal di ; Talaga, Kuningan, Cirebon, yang juga masih keturunan dari Ratu Sunda.