Friday, May 12, 2017

Kedokan Gabus

MENYINGKAP HISTORIS DESA KEDOKAN GABUS
Oleh : Ki Tarka Sutarahardja
SANGGAR AKSARA JAWA CIKEDUNG


Ditilik dari suku kata nama Desa Kedokan Gabus, terdiri dari kata Kedokan dan Gabus. KEDOKAN adalah tempat genangan air atau kubang dan GABUS  sebutan nama ikan [Deleg] atau menurut Kamus Tembung Kawi yang berarti Gabeng [kosong]. Sudah menjadi kelumrahan pada jaman dahulu leluhur memberikan nama desa itu disesuikan dengan kejadian ataupun nama sesuatu ditempat itu. Misal Cikedung berasal dari Cai – Kedung, Karang Asem, berasal dari Pohon Asem, Jati Munggul dari Pohon Jati yang munggul [paling tinggi] dan seterusnya. Maka jika ditinjau dari pendekatan makna bahasa bisa jadi diwilayah Gabus ini jaman dahulu terdapat suatu tempat kubangan yang terkenal dengan ikan gabusnya.

Namun tidaklah semudah membalikan telapak tangan untuk mengetahui histois sebuah nama desa, karena memang belum atau tidak diketemukannya catatan-catatan dalam naskah kuno [manuskrip] yang menuliskan hal-hal terkait dengan desa yang bersangkutan. Bagaimana cara mengetahui leluhur pendiri Desa Kedokan Gabus? Mungkin sudah ada saudara-saudara kita yang lebih dahulu melakukan penelitian ataupun riset untuk hal ini, namun tanpa mengurangi rasa hormat kami maka perkenankanlah saya menyampaikan pendapat-pendapat ataupun saran untuk turut ikut menguak tabir sehubungan dengan kurangnya data yang ada. Sepertinya kita harus melakukan penelusuran panjang yang tidak boleh mengenal lelah, setidaknya kita bisa memulai dengan kegiatan-kegiatan seperti ;

1.              Telusur situs keramat

Situs keramat merupakan tempat yang mendapat penghormatan tersendiri dihati masyarakat, biasanya tempat ini sering dijadikan sarana ritual secara pribadi atau berkelompok. Ada orang yang suka menyepi mendekatkan diri kepada Allah guna mencapai tujuan tertentu atau digunakan secara bersama-sama oleh warga desa dalam melaksanakan acara adat munjungan. Acara munjungan merupakan acara ritual penghormatan kepada leluhur desa. Masyarakat melakukan syukuran tumpengan, sesepuh biasanya memimpin acara ala jawa yang dipungkasi dengan doa agamis.

Menurut saya situs keramat yang tertua itu bisa dijadikan tengarah merupakan petilasan leluhur pendiri desa, menurut informasi team SAJA Kang Rawin Rancahan, diwilayah Kecamatan Gabus ada beberapa situs kabuyutan diantaranya ; Buyut Gebang, Buyut Asem Jajar, Buyut Sawo dll. Permasalahannya kenapa tidak menyebutkan nama jatidiri pelaku, sudah menjadi maklum jaman dahulu banyak orang yang menyamar untuk menghindari bahaya. Banyak para pejuang kuno yang mengganti namanya agar selamat dari incaran Belanda. Buyut Gebang di Kec. Gabus ini apakah ada hubungannya dengan Ds. Gebang Mangpang Kec. Bongas? Suku kata mampang menurut kamus tembung jawi berarti “methu” atau medal, ngaton. Maka yang dimaksud adalah nampak atau terlihatnya gebang yang berupa pohon atau gebang merujuk pada seorang tokoh.

Letak Desa Gebang Mangpang Bongas dan Buyut Gebang Gabus tidak terlalu jauh hanya berjarak puluhan KM saja, ini bisa diduga bahwa seorang tokoh tersebut berpindah tempat untuk keamanan pribadi atau melakukan perluasan wilayah lahan babad. Di wilayah Cikedung Terisi ada nama desa yang nama awalnya dari nama tumbuhan, yaitu ; Lung Gadung, Lung Semut, Lung Koneng. Konon menurut sesepuh, desa itu didirikan oleh satu orang yang menyenangi pepucukan.

2.              Mencari benda-benda peninggalah bernilai sejarah

Benda-benda kuno kiranya bisa dijadikan petunjuk masa peradaban kehidupan leluhur kita, benda tersebut bisa saja berupa ; pusaka, bangunan, peralatan pertanian, dan lain-lain. Ditahun 2016 ketika mengadakan acara bedah budaya di MTS Manggunan, saya telah diberitahu pihak pengurus MTS bahwa di wilayah Gabus masih ditemukan BALE-BALE yang diduga peninggalan Ki Bagus Rangin. Yang menarik perhatian saya adalah ketika kita memperbandingkan ucapan kata Gabus dan Bagus yang hampir sama kedengarannya. Nah apakah ini patut diduga sebuah plesetan nama untuk penyamaran dalam misi perjuangan kala itu?

Dalam penuturan Ki Wirya Kuwu Cikedung ke-13 [1964 – 1965] bahwa dalam perjuangannya Ki Bagus Rangin pernah singgah di Cikedung. Ki Bagus dikejar pasukan gabungan antara Dermayu, Cirebon yang dipimpin Raden Kartawijaya dan Welanda kala itu [menurut Babad Dermayu]. Mengapa Ki Bagus diterima dengan baik di Cikedung, karena leluhur orang-orang Cikedung berasal dari wilayah yang sama dengan Ki Bagus Rangin ialah Sumber – Majalengka. Selepas dari Cikedung pasukan Ki Bagus bergerak ke Barat, dan sangat dimungkinkan singgah ke Gabus, hal ini bisa ditandai dengan masih adanya Bale-bale tersebut.

Dari cerita diatas menurut saya kiranya bisa ditarik benang merah, bahwa kata GABUS berkaitan erat dengan Ki Bagus yang dimaksud.  Dari  petunjuk Kutipan Silsilah Jatitujuh yang dikeluarkan oleh Wargi Jati Cirebon tertanggal 24 Oktober 1983 dan dikutip ulang oleh Raden Nurudin Atmadjakusuma Karangsinom salah satu lembarnya menyebutkan silsilah ; Ki Gedeng Pasir / Paseh ---- Ki Bagus Waridah ---- Ki Bagus Rali ---- Ki Bagus Rasmini [Kedokan Gabus] ---- Ki Bagus Magrim [Cipancuh] dan seterusnya.
Nama Ki Bagus Magrim diabadikan menjadi sebuah nama desa yang terletak sebelum Manggungan, ada sebuah desa terpencil bernama Magrim. Demikian juga dengan masyarakat Desa Jatimunggul begitu mengenal sosok cerita Ki Rali dan Ki Magrim, yang berkaitan erat dengan Situs Pohon Jati Sungsang di sana.
Sekelumit silsilah diatas merupakan bukti penguat bahwa di Kedokan Gabus terdapat keturunan ataupun generasi KEBAGUSAN. Para keturunan Kebagusan banyak menyebar di Indramayu terutama Bagian Barat seperti ; Larangan, Lelea, Cikedung, Terisi, Karangsom, Tipar, Bongas, Anjatan, Sukra, dan lain-lain.
3.             Menelusur Naskah Kuno / Manuskrip

Naskah kuno banyak merekam jejak peradaban masa lalu, oleh itu keberadannya menjadi sangat penting. Naskah-naskah Kuno Nusantara sangat banyak disimpan di negara-negara luar, Belanda, Ingris, dan lain-lain. Keberadaanya sangat dipelihara dengan menghabiskan tidak sedikit anggaran negara. Negar begitu sangat menghargai naskah-naskah kuno, sementara di negeri sendiri keberadannya banyak yang sangat terlantar. Berdasarkan penelusuran Team SAJA sejak 1995 sampai sekarang naskah-naskah Indramayu banyak mengalami kerusakan karena memang disebabkan oleh faktor sdm itu sendiri. Masyarakat masih banyak menganggap jimat ketimbang mempelajari isinya, ada juga sebagian masyarakat yang ikut menguburkan naskah bersama mayit pemiliknya. Ada juga yang membuang pada suatu tempat tertentu, membakar dan lain-lain.

Dari kejadian-kejadian inilah sehingga kita semakin kehilangan sumber-sumber cerita peradaban masa lalu. Hal yang sepele mungkin anak cucu kita sudah tidak mengenalinya lagi nama-nama ; panjang, gledeg, lesung, alu, lenjing, gedhengan, wit betah, gorda putih, kampuh, lenggora, kilat thatit, dringo benggle dan lain-lain. Kata-kata itu sering diucapkan dalam naskah-naskah kuno yang menghubungkan dengan aktivitas kehidupan budaya leluhur.

Sebaimana ditahun 2016 Team Kebuyutan Cirebon yang diketuai Buyut Mas Nang telah menemukan Lontar Buyut Guesan Ulun Legok Lohbener yang terletaak di bantaran sungai Cimanuk. Setelah dibabar ternyata menceritakan keadaan Desa / Kuwu Suramerta Legok Kolot, yang menarik untuk dikaji adalah bahwa pada jaman itu sudah ada penerapan syai’at islam di sana. Masyaraakat membayarkan zakat hasil panen dengan jumlah Sangga, Gedhengan.

Sementara itu terkait dengan pernaskahan di Kecamatan Gabus, SAJA baru menemukan petunjuk berupa 2 Naskah yang menceritakan Babad Cirebon, Wawacan Nabi Muhamad, Brawijaya keduanya ditulis menggunakan aksara pegon [arab berbahasa Cirebon] hal ini menunjukan bahwa sejak dahulu diwilayah Gabus masyarakat [beberapa tokoh ulama] pandai dalam menulis membaca aksara arab yang berhubungan langsung dengan syari’at agama.

Diwilayah Kamplong ditemukan Jubah Ki Leja, menurut penuturan pemilik Ki Leja berasal dari Wetan dan sejaman dengan Ki Bagus Rangin [sangat dimungkinkan Ki Bagus Leja, teman seperjuangan Ki Bagus Rangin]. Masyarakat masih banyak yang mendudukan Jubah itu sebagai jimat, sepertinya belum ada pihak yang ingin mengaji jubah batik itu dari jenis kain, motif dan asal batik, warna dan lain-lain sehingga memunculkan informasi yang lebih akurat.

Dalam Babad Dermayu menyebutkan bahwa Ki Bagus Citra senang nawu iwak, dari hasil tawu-nya itu kemudian dimasak untuk makan bersama. Demikian juga Ki Bagus Raangin yang senang dengan berburu kidang menjangan. Nah penamaan Gabus itu apakah terkait dengan tokoh Ki Bagus Citra yang senang nawu / menangkap ikan di rawa-rawa [kedokan], sehingga memperoleh banyak ikan Gabus. Namun kiranya perlu kita renungkan bahwa julukan ikan Gabus itu dikenal sejak kapan? Sebab wong Dermayu lebih familier menyebutkan IWAK DELEG.
  

Sejarah Desa Kekinian

Dari penelusuran Google didapatkan keterangan bahwa Desa Kedokangabus menjadi sebuah Desa diperkirakan pada tahun 1882, hal ini berdasarkan sumber dari cerita para tokoh tua yang masih mewariskan ceritanya kepada anak cucu dan tidak berdasarkan catatan tertulis sebagai referensi.
Pada zaman penjajahan Belanda, luas wilayah Desa Kedokangabus sangat luas yakni mencakup wilayah Desa Sumbon Kecamatan Kroya, yang kemudian pada tahhun 1982 di mekar menjadi 2 Desa yaitu Desa Kedokangabus dan Desa Sumbon yang masuk wilayah Kecamatan Kroya.
Adapun masyarakat yang pernah menduduki jabatan Kuwu di Desa Kedokangabus dengan masa jabatan rata-rata 8 (delapan) tahun adalah sebagai berikut:
Tabel Kuwu


Babad Cirebon

Bahan Kertas : Copy Naskah
Warna Tinta :  hitam
Aksara & Bahasa : Cacarakan, Jawa
Penulis : -
Tahun  :  -
Pemilik : Nyi Raden Ayu Lina Keluarga Pangeran Kajoran
Penemu : Nyi Raden Ayu Lina
Tempat Simpan : Bantul - Yogyakarta
 Keadaan Fisik : bagus
Isi ringkas  :

Naskah Losarang Indramayu Jawa Barat

Naskah Wawacan Yusuf, Babad Dermayu, Babad Cirebon

Monday, August 29, 2016





 LONTAR PEKAN BARU, "JATISWARA"

Sepertinya lontar ini sudah banyak lempiran-lempiran yang hilang, ini terbukti dengan bentuk cerita yang tidak berurutan dan sering putus. Namun demikian, penemuan lontar milik Bapak Prajogo Riau, Pekan Baru ini sungguh luar biasa. Seolah kemunculannya ingin menjebol dinding keangkuhan jaman modern serta mengingatkan kembali kepada kita akan warisan budaya leluhur yang adi luhung.

Kemungkinan besar lontar ini berjudul “JATISWARA” menurut pengamatan dan analisa Filolog Doddie Yulianto Cirebon, model cacarakan yang digunakannya merujuk pada jaman Demak – Pajang. Kharakter cacarakan yang khas begitu rumit untuk ditelusuri, dan juga penggunaan Bahasa Jawa yang telah banyak tidak dikenali lagi. Penalaran, insting untuk mengetahui rasa bahasa kuna serta pengetahuan perbandingan karya-karya sastra yang lain sangat penting keberadaannya dalam menganalisa makna Lontar Jatiswara tersebut, M. Mukhtar Zaeddin RBN Pesambangan Jati Cirebon. Ray Mengku Sutentra SAJA mengatakan, “Janganlah kita sampai kehilangan akar budaya” Semoga saja apa yang telah kami upayakan semaksimal mungkin ini dapat bermanfaat. Kami team Sanggar Aksara Jawa Indramayu menyadari sepenuhnya dalam proses alih aksara dan bahasa ini begitu banyak kekurangan dengan segala keterbatasan.  

Sunday, May 22, 2016

TURUN BAGAL APA TURUN WIJIL

Kata Bagal [Bagal Jagung] terkadang lebih ditujukan kepada sesuatu yang buruk, sebab setelah butiran-butiran biji jagung diambil [dikonsumsi] maka Bagal akan dibuang begitu saja, lama-kelamaan akan menjamur dan membusuk seperti sampah biasa. Namun para sepuh terkadang memaknai kata "Bagal" sebagai sebuah sindiran atau instrospeksi diri akan keberadaan dirinya dalam tatanan hidup bermasyarakat. Tak jarang juga kata "Bagal" digunaakan sebagai sebuah kenyataan dari wong cilik. Dalam dunia pewayangan kata Bagal juga masuk kedalam nama salah satu tokoh punakawan Para Pandawa di Negara Amarta. Bagal Buntung merupakan salah satu putra daripada Ki Semar [Sanghyang Munged] yang mempunyai waris Kedewatan [Kedudukan], tetapi ia bernasib menjadi punakawan saja.

Kata Turun Bagal atau Turun Wijil sering dimaknai sebagai ungkapan, sebagaimana seorang Wa Kaji bertutur, "Kita mah mader turun bagal, saya sih hanya keturunan dari orang biasa saja" Walaupun ia sudah menjadi seorang haji yang menpunyai kedudukan cukup lumayan terpandang di masyarakat, namun ia lebih menyadari bahwa menjadi seseorang itu tidak perlu neko-neko dalam hidup.

Adapun kata "Wijil" dalam turun wijil dimaksudkan untuk menyebut orang-orang yang berilmu pengetahuan dan mempunyai kedudukan martabat yang tinggi.Sifat daripada wijil [biji] itu jika diletakan/dibuang di bagian bumi manapun akan selalu tumbuh, Demikianlah sifat dan keberadaan orang yang berilmu berbudi luhur, ia akan tumbuh dan berkembang. Rupanya makna Turun Bagal dan Turun Wijil telah mengalami pergeseran, jika dahulu lebih dimaknai kepada sifat budi pekerti namun sekarang masyarakat lebih condong memaknainya dalam hal material, sehingga kurang memperhatikan norma-norma kesusilaan. Masa sih asal ada orang kaya dan sukses disebut turun wijil? padahal yang dikerjakannya adalah mungkin saja kurang patut menyandang sebagai turun wijil.